Kenali Apa Itu Pencucian Uang atau Money Laundering

Pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah pencucian uang. Di Indonesia sendiri banyak kasus mengenai hal tersebut, sebagai contohnya adalah kasus mantan manager Kimia Farma dengan kasus antigen bekas yang terkena pasal pencucian uang. Lalu, apa sih pencucian uang itu dan bagaimana mereka melakukannya? Simak di bawah ini!

Apa itu Pencucian Uang?

Pencucian uang adalah proses ilegal menghasilkan sejumlah besar uang yang berasal dari kegiatan kriminal, seperti perdagangan narkoba atau pendanaan teroris, tampaknya berasal dari sumber yang sah. Dengan begitu, mereka menganggap kotor uang hasil kejahatan. Oleh karena itu ada sebuah proses “mencuci” agar uang tersebut terlihat bersih.

Pencucian uang atau money laundering adalah kejahatan keuangan serius yang biasa para kerah putih dan penjahat jalanan lakukan. Sebagian besar perusahaan keuangan memiliki kebijakan anti-pencucian uang (AML) untuk mendeteksi dan mencegah aktivitas ini.

Photo by Karolina Grabowska from Pexels

Cara Kerja Pencucian Uang

Pencucian uang sangat penting bagi organisasi kriminal yang ingin menggunakan uang yang mereka peroleh secara ilegal secara efektif. Berurusan dengan uang tunai ilegal dalam jumlah besar tidak efisien dan berbahaya. Penjahat membutuhkan cara untuk menyimpan uang di lembaga keuangan yang sah, namun mereka hanya dapat melakukannya jika tampaknya berasal dari sumber yang sah.

Note: Bank wajib melaporkan transaksi tunai dalam jumlah besar dan aktivitas mencurigakan lainnya yang mungkin merupakan indikasi money laundering.

Proses Pencucian Uang

Proses ini biasanya melibatkan tiga langkah: penempatan, pelapisan, dan integrasi.

  • Penempatan menempatkan “uang kotor” ke dalam sistem keuangan yang sah.
  • Layering menyembunyikan sumber uang melalui serangkaian transaksi dan trik pembukuan.
  • Pada langkah terakhir, yaitu integrasi, uang yang sekarang dicuci ditarik dari rekening yang sah. Kemudian para penjahat bisa menggunakan uang tersebut untuk tujuan apa pun yang ada dalam pikirannya.

Ada banyak cara untuk mencuci uang, dari yang sederhana hingga yang sangat rumit. Salah satu teknik yang paling umum adalah menggunakan bisnis berbasis uang yang sah milik organisasi kriminal. Misalnya, jika organisasi memiliki sebuah restoran, itu mungkin menggelembungkan penerimaan kas harian untuk menyalurkan uang tunai ilegal melalui restoran dan ke rekening bank restoran. Setelah itu, penarikan dana bisa mereka lakukan sesuai kebutuhan. Penyebutan jenis bisnis ini adalah sebagai “front”.

Varian Pencucian Uang atau Money Laundering Variant

Dalam satu bentuk money laundering yang umum, atau beberapa orang juga menyebutnya dengan istilah smurfing (penataan), di mana penjahat memecah sejumlah besar uang tunai menjadi beberapa simpanan kecil. Mereka juga sering kali menyebarkannya ke banyak rekening berbeda, untuk menghindari deteksi. Melakukan tindakan ini juga dapat melalui penggunaan pertukaran mata uang, transfer kawat, dan penyelundup uang tunai.

Cara menyelundupkan uang tunai ini adalah menyelundupkan dalam jumlah besar melintasi perbatasan dan menyimpannya di rekening luar negeri, di mana penegakan pencucian uang tidak terlalu ketat.

Metode lainnya melibatkan investasi pada komoditas seperti permata dan emas yang memindahkan ke yurisdiksi lain termasuk ke dalam kategori mudah. Mereka melakukannya secara diam-diam berinvestasi dan menjual aset berharga seperti real estat, perjudian, pemalsuan. Bahkan ada juga yang menggunakan perusahaan cangkang (perusahaan tidak aktif atau korporasi yang pada dasarnya hanya ada di atas kertas).

Pencucian Uang Elektronik atau Electronic Money Laundering

Internet telah memberikan putaran baru pada kejahatan lama. Maraknya lembaga perbankan online, layanan pembayaran online anonim, dan transfer peer-to-peer (P2P) dengan ponsel telah membuat pendeteksian transfer uang ilegal menjadi semakin sulit. Selain itu, penggunaan server proxy dan perangkat lunak anonim hampir membuat tidak mungkin terdeteksi. Hal ini karena pentransferan dan penarikan uang meninggalkan sedikit atau tanpa jejak alamat IP.

Tindakan ini juga dapat melalui pelelangan dan penjualan online. Ada beberapa juga yang melakukan pencucian di situs web perjudian dan situs game virtual. Dengan begitu, terjadi perubahan uang haram menjadi mata uang game, lalu kembali menjadi uang “bersih” yang nyata, dapat digunakan, dan tidak dapat dilacak.

Kasus terbaru dari money laundering melibatkan cryptocurrency, seperti Bitcoin. Meskipun tidak sepenuhnya anonim, penggunaan cryptocurrency dalam skema pemerasan, perdagangan narkoba, dan kegiatan kriminal lainnya menjadi semakin sering. Hal ini karena anonimitas relatif mereka dibandingkan dengan bentuk mata uang yang lebih konvensional.

Undang-undang anti-pencucian uang (AML) lambat untuk mengejar jenis kejahatan dunia maya ini, karena sebagian besar undang-undang masih didasarkan pada pendeteksian uang kotor saat melewati lembaga perbankan tradisional.

Pencegahan Pencucian Uang

Pemerintah di seluruh dunia telah meningkatkan upaya mereka untuk memerangi pencucian uang dalam beberapa dekade terakhir, dengan peraturan yang mengharuskan lembaga keuangan untuk menerapkan sistem untuk mendeteksi dan melaporkan aktivitas yang mencurigakan. Jumlah uang yang terlibat cukup besar. Menurut Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan, transaksi pencucian uang global mencapai sekitar $800 miliar hingga $2 triliun per tahun, atau sekitar 2% hingga 5% dari PDB global.

Di Indonesia sendiri pencegahan dan pemberantasan pencucian uang diatur dalan UU No.8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pncucian Uang.

Sumber: Investopedia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *